Kamis, 15 Oktober 2020

Proses Pembelajaran Kimia Abad 21

 

Proses Pembelajaran Kimia Abad 21

Pembelajaran merupakan proses memfasilitasi agar individu dapat belajar. Antara belajar  dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar mau belajar dengan kehendaknya sendiri. Secara khusus dapat diutarakan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang dibangun guru untuk meningkatkan moral, intelektual, serta mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa, baik itu kemampuan berpikir, kemampuan kreativitas, kemampuan mengkonstruksi pengetahuan, kemampuan pemecahan masalah, hingga kemampuan penguasaan materi pembelajaran dengan baik. Kemampuan-kemampuan yang dikemukakan di atas merupakan kemampuan yang perlu dikembangkan pada abad 21. Abad 21 dicirikan oleh berkembangnya informasi secara digital. Masyarakat secara masif terkoneksi satu dengan lainnya. Hal inilah yang dikatakan oleh banyak orang dengan revolusi industri, terutama industri informasi. Era digital telah mewarnai kehidupan manusia di abad 21.

Pembelajaran di abad 21 harus dapat mempersiapkan generasi manusia Indonesia menyongsong kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pembelajaran abad 21 sebenarnya adalah implikasi dari perkembangan masyarakat dari masa ke masa. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat berkembang dari masyarakat primitif ke masyarakat agraris, selanjutnya ke masyarakat industri, dan sekarang bergeser ke arah masyarakat informatif. Masyarakat informatif ditandai dengan berkembangnya digitalisasi. Dari tahun 1960 sampai sekarang telah berkembang dengan pesat penggunaan komputer, internet dan handpone. Di tengah ketatnya ketidakpastian dan tantangan yang dihadapi setiap orang inilah, maka dibutuhkan perubahan paradigma dalam sistem pendidikan yang harus dapat menyediakan seperangkat keterampilan abad 21 yang dibutuhkan oleh peserta didik guna menghadapi setiap aspek kehidupan global (Soh, Arsad & Osman, 2010). Perubahan yang dimaksud bukanlah menyangkut perubahan konten kurikulum, melainkan perubahan pedagogi, yaitu perubahan dalam bertindak dari simple action ke arah comprehensive action dan peralihan dominasi pengajaran tradisional menuju pengajaran berbasis teknologi.

    Jadi, tujuan dari pendidikan abad 21 adalah mendorong peserta didik agar menguasai keterampilan-keterampilan abad 21 yang penting dan berguna bagi mereka agar lebih responsif terhadap perubahan dan perkembangan jaman. Hal yang terpenting dalam pendidikan abad 21 adalah mendorong peserta didik agar memiliki basis pengetahuan dan pemahaman yang mendalam untuk dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat (life-long learner). Dengan demikian, system pendidikan perlu mempertimbangkan sejumlah aspek yang menjadi domain dalam pendidikan abad 21. Salah satu domain yang sangat penting dalam pendidikan abad 21 adalah “Digital-Age Literacy” menurut dokumen yang ditetapkan dalam enGauge 21st  Century Skills (NCREL & Metiri Group, 2003).

Selain itu, sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu peralihan pembelajaran dimana kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher-centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan dimana peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis, kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.


Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik berbeda dengan pembelajaran yang berpusat pada pendidik, berikut karakter pembelajaran abad 21 yang sering disebut sebagai 4 C, yaitu:

1.   Communication

Peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari  pendidiknya. Abad 21 adalah abad digital. Komunikasi dilakukan melewati batas wilayah negara dengan menggunakan perangkat teknologi yang semakin canggih. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi. Saat ini begitu banyak media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Melalui smartphone yang dimilikinya, dalam hitungan detik, manusia dapat dengan mudah terhubung ke seluruh dunia.

Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi memerlukan seni, harus tahu dengan siapa berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi bisa dilakukan baik secara lisan, tulisan, atau melalui simbol yang dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antarsesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.

2.   Collaboration

Pada collaboration, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan. Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.

Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.

3.    Critical Thinking and Problem Solving

Pada critical thinking and problem solving, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek.

Guru jangan risih atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Hal yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

4.     Creativity and Innovation

Pada creativity and innovation, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi acara menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya anak-anak didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa kini agar siswa merasa dihargai.

Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.

Lalu bagaimana peran sekolah? Peranan sekolah dalam penerapan pembelajaran Abad 21 antara lain: a) Meningkatkan kebijakan & rencana sekolah untuk mengembangkan keterampilan baru; b) Mengembangkan arahan baru kurikulum; c) Melaksanakan strategi pengajaran yang baru dan relevan, dan d) Membentuk kemitraan sekolah di tingkat regional, nasional dan internasional

Pendidik  berperan sangat penting (Fuad Hasan), karena sebaik apa pun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan sistem yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara profesional. Khususnya guru sangat menetukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker&Popham,2005:28).

Kimia merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai materi,  sifat materi, perubahan materi dan energi yang menyertai perubahan materi  tersebut. Pelajaran kimia sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam masih  dianggap mata pelajaran yang sulit untuk dipahami oleh siswa. Hal ini disebabkan  karena konsep-konsep yang yang terdapat dalam pelajaran kimia memiliki  kesukaran yang tinggi. Siswa juga beranggapan bahwa belajar kimia itu  membosankan. Beberapa alasan yang menyebabkan ilmu kimia itu sulit yaitu dalam ilmu kimia  banyak konsep-konsep abstrak yang dirasakan sulit bagi siswa untuk menggambarkannya.  Konsep abstrak merupakan konsep penting untuk dipelajari dalam kimia, jika konsep abstrak tidak cukup dikuasai oleh siswa, maka konsep kimia selanjutnya tidak mudah dipahami.

Ilmu kimia menyangkut tiga level, yaitu level makroskopik, sub-mikroskopik dan simbolik. Level makroskopik menunjukkan fenomena-fenomena rill dan dapat dilihat. Level sub-mikroskopik merupakan observasi rill tetapi  masih memerlukan teori untuk menjelaskan apa yang terjadi pada level molekuler dan menggunakan representas model teoritis. Level yang ketiga yaitu simbolik, level simbolik merupakan representasi dari suatu kenyataan. Untuk dapat memahami ilmu kimia secara konseptual, dibutuhkan kemampuan untuk merepresentasikan dan menerjemahkan masalah dan fenomena kimia tersebut ke dalam bentuk representasi level makroskopik, level sub-mikroskopik, dan level simbolik secara simultan .

Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu antara lain : 

1. Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran

Sebagai fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam pembuatan RPP. RPP haruslah baik dan detil dan mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. Dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam kurikulum nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas. 

2. Masukkan unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking) 

Teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru. Untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah dan ada kecenderungan bahwa siswa hanya menjadi pengumpul informasi. Guru harus mampu memberikan tugas di tingkat aplikasi, analisa, evaluasi dan kreasi, hal ini akan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan membaca informasi yang mereka kumpulkan sebelum menyelasikan tugas dari guru. 

3. Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi 

Beberapa pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Learning Experience). Satu hal yang perlu dipahami bahwa siswa harus mengerti dan memahami hubungan antara ilmu yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyata, siswa harus mampu menerapkan ilmunya untuk mencari solusi permasalahan dalam kehidupan nyata.  

4. Integrasi Teknologi 

Sekolah dimana siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, siswa harus terbiasa bekerja dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki, satu hal saja bahwa pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur teknologi, yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, namun tentu saja guru harus berusaha untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu. Hal yang paling mendasar yang harus diingat bahwasannya teknologi tidak akan menjadi alat bantu yang baik dan kuat apabila pola pembelajarannya masih tradisional. 

Model ASIE

ASIE ialah akronim bagi komponen A – Analyze (Analisis)  S – Strategize (menyusun strategi)     I – Implement (melaksana) E – Evaluate (menilai). Kesemua komponen bertindak sebagai prosedur merangka perancangan pengajaran (instructional planning procedures) di peringkat makro secara bersistematik dan profesional untuk diaplikasikan di peringkat mikro iaitu pembentukan beberapa rancangan pelajaran harian (RPH) yang mengandungi item-item aktiviti pembelajaran yang boleh dipilih mengikut kesesuaian pelajar sendiri.

Ia merupakan satu bentuk transformasi terhadap model reka bentuk pengajaran yang diperlukan bagi mereka bentuk semula hala tuju pembelajaran untuk menggambarkan lanskap pembelajaran masa kini bagi persediaan pelajar menghadapi Revolusi Industri Ke-Empat (IR4.0) dan pembentukan masyarakat pintar 5.0 (Society 5.0).

Bersesuaian dengan  nama model yang terangkum dalam CIDS ini iaitu Model Reka Bentuk Pengajaran Integral ASIE yang bersifat integral (kesepaduan), maka ianya mempunyai ciri-ciri IHE (integratif, hibrid, eklektik). Model ASIE ini dapat digolongkan dalam kategori Model Reka Bentuk Pengajaran Hibrid (Hybrid Instructional Design System) kerana walaupun pada asasnya ia adalah model reka bentuk pengajaran berasas bilik darjah (classroom-based ID model) tetapi ruang lingkupnya adalah lebih luas menjangkau bilik darjah hinggalah meliputi persekitaran maya (virtual).

Dari segi teorinya pula model ini mengikut aliran pendekatan eklektik dalam bidang reka bentuk pengajaran (an eclectic approach to the instructional design) di mana seseorang pereka bentuk pengajaran boleh menggabungkan idea dari pelbagai teori pembelajaran untuk membina pengalaman pembelajaran yang lebih berkesan daripada hanya tertumpu pada satu pengaruh teori saja. Oleh itu, paradigma behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, dan konektiviti dipertimbangkan dan digunakan dalam pelbagai prosedur perancangan pengajaran, yang berpusatkan murid, tidak seperti beberapa model konvensional yang pada mulanya bertujuan untuk Pembangunan Sistem Pengajaran (ISD) (Seel, N.M 1997, Gustafson K.L, Branch R.M, (2002).

Model Reka Bentuk Pengajaran Integral ASIE memberi opsyen kepada guru bagi membolehkan mereka  merancang pengajaran secara lebih efisyen melalui aplikasi dalam talian (online application). Terdapat beberapa aspek dan item dalam komponen model ini yang boleh diubah suai (customized) atau membuat penambahbaikan atau  mengubah tetapan (setting) yang disediakan mengikut keperluan kurikulum, situasi amalan perancangan sesebuah sekolah, keperluan pelajar dan kreativiti guru. Versi baharu 6.0 mempunyai pelbagai opsyen membolehkan guru mencipta rancangan pelajaran harian (RPH) mengikut keperluan dan kreativiti masing-masing secara profesional serta mencipta Komuniti Pembelajaran Profesional (PLC) untuk membina watak dan mencungkil serta memupuk kreativiti murid. 

Permasalahan:

Dalam pembelajaran abad 21 ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan salah satunya adalah integrasi teknologi, pada daerah terpencil dalam mengaplikasikan teknologi itu masih sulit, bagaimana cara agar pembelajaran abad 21 di daerah terpencil dapat terlaksana dengan baik walaupun menggunakan teknologi yang seadanya?

 

7 komentar:

  1. disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari dina, solusi untuk menyukseskan pendidikan abad 21 di daerah terpencil, perlu: (1) mempercepat pemerataan fasilitas pembelajaran diseluruh daerah tanpa terkecuali; (2) membangun perpustakaan, menyediakan buku belajar baik fiksi maupun non fiksi untuk mendorong budaya literasi siswa; (3) menyediakan alat peraga sebagai visualisasi materi ajar guna mendukung pembelajaran tanpa teknologi; (4) melakukan kajian kurikulum khusus daerah terpencil; (5) membentuk guru peneliti dari guru-guru daerah terpencil untuk merumuskan strategi pembelajaran sesuai kondisi daerah; (6) memprogramkan pertukaran guru antara guru daerah terpencil dengan daerah berkembang untuk menghasilkan ide-ide kreatif dalam pembelajaran serta menyesuaikan kebutuhan guru di sekolah; (7) memfasilitasi pelatihan guru untuk meningkatkan kualitasnya terkait pembelajaran abad 21 sesuai kondisi daerah; dan (8) mempercepat program internet masuk ke daerah terpencil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin menambahkan bahwa solusi lain yang dapat dilakukan menyiapkan guru-guru yang profesinal dan merata yang dimana guru-guru profesional ini hanya dapat ditemui di kota-kota saja, hal ini perlu dilakukan pemerataan. Untuk mengatasi masalah guru dapat dilakukan beberapa cara menurut Akim (2010), antara lain:
      1. Mengangkat Guru Honor (dilakukan dengan dukungan dana BOS)
      2. Mengangkat Guru Kontrak (program bank dunia yang sudah ditiadakan)
      3. Mengangkat Guru baru (tergantung kuota)
      4. Mutasi berkala dan terbuka
      5. Mutasi horisontal dan vertikal
      6. Penugasan/pergerakan guru ke daerah/sekolah yang kurang guru dari sekolah yang cukup guru (mobile teacher)
      Program tersebut merupakan program Mobile Teacher untuk mengatasi kekurangan guru. Memberikan bantuan kesejahteraan bagi tenaga didik yang bertugas di daerah terpencil agar mereka senantiasa dengan senang hati dan ke-ikhlas-an dalam menjalankan pekerjaannya dan tidak merasa dibebani. Sehingga apabila guru sudah ikhlas dan bersemangat maka guru tersebut dapat memberikan solusi terbaik dalam pembelajaran yang akan dilakukannya bisa dengan menggunakan alat peraga sederhana dan sebagainya sehingga kata "daerah terpencil" tidak lagi menjadi daerah yang dikenal dengan keterbelakangan

      Hapus
  2. Saya akan menjawab pertanyaan anda, Bagi guru, pembelajaran dimulai dengan memperbarui pengetahuan bukan berarti menitiberatkan pembelajaran pada alat TIK. Teknologi dan Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan bukanlah sebagai tujuan pendidikan abad 21. Kualitas terbaik guru daerah terpencil menyeimbangkan ketidaksediaan alat TIK dalam pembelajaran. Guru harus mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, efektif dan efisien serta membekali siswa dengan berbagai skill.

    Kegiatan pembelajaran yang disusun menganut empat prinsip pokok pembelajaran abad 21 sebagaimana yang dirumuskan Jennifer Nichols dalam Rohim, Bima dan Julian (2016). Adapun keempat prinsip tersebut yakni (1) pembelajaran berpusat pada siswa; (2) siswa mampu berkolaborasi dengan teman ataupun orang lain; (3) pembelajaran diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari; dan (4) sekolah terintegrasi dengan masyarakat.

    BalasHapus
  3. Menurut saya, prinsip pembelajaran abad 21 yang bisa diadaptasikan kedalam pembelajaran oleh guru didaerah terpencil dengan: (1) menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggambarkan aktivitas siswa, guru, pemanfaatan media pembelajaran dan proses penilaian; (2) memperbarui pengetahuan sesuai perkembangan zaman; (3) menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk memberi variasi pengalaman belajar; dan (4) meningkatkan kreatifitas untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa selalu tertarik ke sekolah. Mengembangkan keempat kegiatan pembelajaran tersebut mendorong guru menciptakan pembelajaran berasaskan prinsip pembelajaran abad 21. Namun, para guru tetap perlu untuk menguasai teknologi yang terkait langsung terhadap pembelajarannya. Hal ini dikarenakan perubahan adalah sebuah kepastian sekarang ataupun nanti. Oleh karena itu, pemerintah secara bertahap dan berkesinambungan mengupayakan pemerataan bantuan TIK yang menjangkau seluruh daerah di Indonesia.

    BalasHapus
  4. menurut saya solusi untuk menyukseskan pendidikan abad 21 di daerah terpencil adalah
    (1) menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggambarkan aktivitas siswa, guru, pemanfaatan media pembelajaran dan proses penilaian; (2) memperbarui pengetahuan sesuai perkembangan zaman; (3) menerapkan berbagai strategi pembelajaran untuk memberi variasi pengalaman belajar; dan (4) meningkatkan kreatifitas untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa selalu tertarik ke sekolah.

    BalasHapus
  5. Saya setuju dengan pendapat teman-teman yang lain. Siswa-siswi sekolah satu atap tetap harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dibalik semua keterbatasan yang ada. Berkualitas bukan dalam artian fasilitas yang cukup atau sarana prasarana yang memadai, namun lebih dari kualitas pengajaran. Berbagai keterampilan abad ke-21 seperti keterampilan pemecahan masalah, inovasi, komunikasi efektif, kerjasama, kemandirian, literasi media dan informasi, wawasan global, tanggung jawab sosial dan berpikir kritis harus mereka dapatkan agar mampu bersaing kelak di masa depan yang begitu kompleks.

    Pemanfaatan TIK di kelas untuk memberi para siswa pengalaman belajar yang kaya juga perlu “diupayakan”. Hal ini tidak wajib namun perlu, karena para siswa butuh wawasan tentang bagaimana teknologi dapat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di dunia nyata, yang saat ini menjadi tumpuan dalam dunia kerja. Pemanfaatan TIK secara sederhana di kelas dapat dimulai dengan menggunakan satu buah komputer (milik guru atau sekolah) dan LCD Proyektor dalam pembelajaran apapun, namun bukan dengan pelatihan keterampilan TIK seperti kursus komputer yang khusus mengajarkan keterampilan komputer namun aktifitasnya terintegrasi dalam semua mata pelajaran.

    BalasHapus
  6. Pola pembelajaran abad 21 di era revolusi industri 4.0 memberi tantangan dalam dunia pendidikan. Masing-masing daerah baik daerah terpencil maupun daerah berkembang memiliki tantangan tersendiri. Namun, tantangan tidak boleh menjadi sebuah hambatan. Pendidikan harus membawa perubahan untuk mencetak generasi yang bermartabat untuk hidup lebih sejahtera. Upaya menjawab tantangan abad ini harus didukung dari berbagai pihak baik pemerintah dan guru. Pemerintah dan guru memiliki perannya masing-masing untuk mewujudkan cita-cita nasional

    BalasHapus

Kisi-Kisi Instrumen Kegiatan Pembelajaran Kimia Berbasis Disruptive Innovations

  Disruptive innovation    Teori  disruption  pertama kali di perkenalkan pada tahun 1995 oleh Clayton Christensen. Definisi dari  Disrupt...